Guna Respons Isu Kesehatan Mental Global, Prodi BPI FDK UINSU Gelar Seminar Internasional Fenomena “Brainrot”

Medan, 21 April 2026 – Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, sebuah fenomena baru bernama “Brainrot” mulai menjadi perhatian serius di kalangan akademisi dan praktisi kesehatan mental. Merespons ancaman penurunan kualitas kognitif tersebut, Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sumatera Utara Medan bersiap menggelar sebuah perhelatan akademik internasional yang krusial.

Bertajuk “International Seminar in Brainrot Phenomenon 2026”, acara ini dijadwalkan akan menghentak pada Rabu, 29 April 2026. Dengan mengangkat tema “Digital Overload, Cognitive Decline & Mental Health in the Modern Era”, seminar ini tidak hanya sekadar menjadi ruang diskusi, melainkan sebuah gerakan literasi untuk membedah bagaimana pola konsumsi konten digital yang berlebihan dapat mengikis ketajaman berpikir dan kesehatan mental generasi masa kini.

Langkah berani Prodi BPI ini diperkuat dengan jalinan kolaborasi internasional bersama Persatuan Kaunselor Pendidikan (PEKA) Malaysia. Sinergi dua institusi lintas negara ini menunjukkan bahwa tantangan kesehatan mental di era digital telah menjadi isu kolektif yang memerlukan solusi lintas batas.

Acara ini akan dibuka dengan sambutan utama dari Prof. Dr. Hasan Sazali, M.Ag., Dekan FDK UINSU yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Dekan Dakwah dan Komunikasi (FORDAKOM). Kehadiran beliau menegaskan bahwa isu ini berada di garis depan agenda pengembangan akademik fakultas.

Tak tanggung-tanggung, narasi intelektual dalam seminar ini akan dibangun oleh empat pakar terkemuka dari empat negara tetangga. Dari Indonesia, Prof. Dr. Nurrussakinah Daulay, M.Psi., Psikolog akan membedah sisi psikologis fenomena ini. Sementara itu, Muhammad Saffuan Abdullah dari Malaysia akan membawa perspektif praktis mengenai manajemen pelatihan dan konsultasi mental.

Perspektif regional semakin kaya dengan hadirnya Ali Yusri Abdul Ghafor dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam, serta Wannadwah bintee Ja’far dari Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri, Singapura. Kehadiran para pakar ini diharapkan mampu memberikan peta jalan bagi mahasiswa dan masyarakat umum dalam menavigasi dunia digital tanpa harus kehilangan jati diri dan kemampuan berpikir kritis.

Pihak panitia penyelenggara menekankan bahwa “Brainrot” bukan sekadar istilah populer di media sosial, melainkan alarm peringatan bagi dunia pendidikan. Seminar ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan mengenai masa depan kognitif generasi muda yang kian bergantung pada algoritma.

Bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari percakapan global ini, pendaftaran telah dibuka secara khusus untuk civitas akademika FDK UINSU melalui tautan https://s.id/isbp-2026-fdk. Melalui pertemuan hybrid ini, UIN Sumatera Utara Medan berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang tangguh di era modern.