SEJARAH BERDIRINYA UIN SUMATERA UTARA

SEJARAH UIN SUMATERA UTARA

UIN Sumatera Utara adalah Pergurun Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang merupakan alih status dari IAIN Sumatera Utara yang didirikan pada Tahun 1973 di Medan. Berdirinya IAIN Sumatera Utara ketika itu dilatarbelakangi dan didukung oleh beberapa faktor pertimbangan objektif. Pertama, Perguruan Tinggi Islam yang berstatus Negeri pada saat itu belum ada Provinsi Sumatera Utara, walaupun Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta memang sudah ada. Kedua, pertumbuhan pesantren,  madrasah dan perguruan-perguruan agama yang sederajat dengan SLTA di daerah Sumatera Utara tumbuh  dan berkembang dengan pesatnya, yang sudah tentu memerlukan adanya pendidikan lanjutkan yang sesuai, yakni adanya Perguruan Tinggi Agama Islam yang berstatus Negeri.

Dalam suasana yang demikian, timbullah inisiatif Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Provinsi Sumatera Utara yang saat ini dijabat oleh H.Ibrahim Abdul Halim beserta dengan teman-temannya untuk mendirikan Fakultas Tarbiyah di Medan. Usaha ini terwujud dengan terbentuknya suatu Panitia Fakultas Tarbiyah Persiapan IAIN yang diketuai oleh Letkol Raja Syahnan, pada tanggal 24 Oktober 1960.

Sejalan dengan berdirinya Fakultas TarbiyahPersiapan IAIN Medan, Yayasan K.H Zainul Arifin (milik Nahdatul Ulama) membuka Fakultas Syariah pada tahun 1967. Keinginan untuk mewujudkan Fakultas Syari’ah Negeri, prosesnya sama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Medan, yaitu dengan mengajukan permohonan Nomor 199/YY/68 tanggal 20 Juni 1968 kepada Menteri RI di Jakarta. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Menteri Agama RI mengambil kebijaksanaan dengan menyatukan Panitia Penegerian Fakultas Tarbiyah yang telah ada, dengan Panitia Penegerian Fakultas Syari’ah. Akhirnya, penegeriannya sama-sama dilakukan pada hari Sabtu, 12 Oktober 1968 M. Bertepatan dengan tanggal 20 Rajab 1389 H, oleh Menteri Agama RI K.H. Moh. Dahlan, bertempat di Aula Fakults Hukum USU Medan, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat, pembesar sipil dan militer serta Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dalam acara tersebut, Drs. Hasbi AR dilantik sebagai Pj. Dekan Fakultas Tarbiyah, dan H. T. Yafizham, SH sebagai Pj. Dekan Fakultas Syari’ah dengan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 224 dan 225 Tahun 1968.

Walaupun sejak tanggal 12 Oktober 1968 Menteri Agama RI telah meremikan 2 (dua) buah Fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syari’ah sebagai Fakultas Cabang dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, namun semangat dan tekad untuk memperoleh IAIN yang berdiri sendiri di Medan tetap menjadi idaman setiap warga masyarakat, organisasi-organisasi agama, organisasi emuda dan mahasiswa terutama dari pimpinan IAIN Cabang Medan. Respons dari pihak Pemerintah Daerah dan Departemen Agama RI untuk memenuhi keinginan dalam mewujudkan suatu IAIN penuh dan berdiri sendiri di Medan, ditindak lanjuti dengan mempersiapkan gedung-gedung kuliah, perpustakaan, tenaga administrasi, tenaga dosen serta sarana-sarana perkuliahan lainnya.

Pada tanggal 17 Juni 1960 diadakan musyawarah antara tokoh-tokoh masyarakat dengan pra ulama di Padangsidimpuan. Kemudian pada bulam September 1960 didirikan Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Tapanuli Selatan. Sekolah ini dipimpin oleh Syekh Ali Hasan Ahmad sebagai Dekan, Hasan Basri Batubara sebagai Wakil Dekan ddan Abu Sofyan sebagai Sekretaris. Perkuliahan dilaksanakan di gedung SMP Negeri II Padangsidimpuan. Sekolah ini hanya berjalan selama 10 bulan karena kekurangan dana dan kesulitan lainnya. Namun gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam tidak hilang begitu saja.

Pada tahun 1962 didirikanlah Yayasan Perguruan Tinggi Nandlatul Ulama (PERTINU) dengan Akte Notaris Rusli di Medan. Kegiatan Yayasan ini pertama sekali membuka Fakultas Syari’ah, kemudian disusul dengan pembukaan Fakultas Tarbiyah pada tahun 1963 dan Fakultas Ushuluddin pada tahu 1965. Dekan pertama Fakultas Ushuluddin adalah Al Ustadz Arsyad Siregar sedangkan kegiatan perkuliahan dimulai pada bulan Oktober 1965 dengan jumlah mahasiswa 7 orang. Sarana dan fasilitas perkuliahan masih menompang di gedung SMPN 11 Padang Sidempuan dan kantor sekretariat di rumah Syekh Ali Hasan Ahmad, salah satu pengurus Yayasan PERTINU.

Setelah PERTINU mendirikan tiga fakultas, kalangan Pengurus NU Tapanuli Selatan meningkatkan status perguruan tinggi yang diasuhnya dari perguruan tinggi Islam menjadi universitas. Lalu dibentuklah Universitas Nahdhatul-Ulama Sumatera Utara (disingkat UNUSU) di bawah yayasan UNUSU. Rektor Pertama UNUSU adalah Syekh Ali Hasan Ahmad.

Pada tahun 1967 Yayasan UNUSU mengajukan permohonan kepada Menteri Agama agar Fakultas Tarbiyah dapat dinegerikan. Berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 110 Tahun 1968 Fakultas Tarbiyah UNUSU resmi manjadi Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Imam Bonjol Padang. Berhasil menegerikan Fakultas Tarbiyah, kemudian Yayasan UNUSU terdorong  untuk mengusulkan penegerian Fakultas Ushuluddin dan kemudian mendapat persetujuan dari Menteri Agama dengan SK Nomor 193 Tahun 1970 dengan perubahan status menjadi Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Cabang Padangsidimpuan. Pada upacara peresmiannya 24 September 1970, Al Ustadz Arsyad Siregar Dinobatkan sebagai Pejabat Dekan.

Dalam perkembangan selanjutnya pada Tahun Akademik 1994/1995 dibuka pula Program Pascasarjana (PPS) setingkat starata dua (S2) Jurusan Dirasah Islamiyah. Pada awalnya Pascasarjana melaksanakan kegiatan kuliah di Kampus IAIN Jln. Sutomo Medan, tetapi kemudian pada tahun 1998 dibangun kapus baru dipondok Surya Helvetia Medan. Sekarang PPS sudah mengasuh 6 (enam) Program Studi S2 (Pemikiran Islam, Pendidikan Islam, Hukum Islam, Komunikasi Islam, Ekonomi Islam, dan Tafsir Hadis), serta 4 Program Studi S3, yaitu Hukum Islam, Pendidikan Islam, Agama dan Filsafat Islam, dan Komunikasi Islam.

Selanjutnya pada tahun 1997, sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997, tanggal 21 Maret 1997 tentang Pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) bagi Fakultas-Fakultas cabang IAIN se Indonesia, maka Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara cabang Padangsidimpuan turut pula beralih status menjadi STAIN Padangsidimpuan sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri yang berdiri sendiri.

Setelah peresmian IAIN Sumatera Utara, pimpinan menetapkan kebijaksanaan dalam bidang ketatausahaan yang bertujuan memusatkan beberapa bidang kegiatan administrasi di kantor pusat IAIN Sumatera Utara agar setiap fakultas dan unit lainnya dapat lebih memfokuskan diri dalam peningkatan kualitas akademik. kebijaksanaan tersebut dituangkan dalam Keputusan Rektor Nomor 22 tahun 1974. Kebijaksanaan tersebut tentu saja dikembangkan sesuai dengan tuntutan perkembangan yang terjadi. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 24 1988, IAIN Sumatera Utara mempunyai sebuah biro, yaitu Biro Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan. Biro ini membawahi enam bagian, yaitu : (1) Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, (2) Bagian Perencanan dan Sistem Informasi, (3) Bagian Keuangan, (4) Bgaian Kepegawaian, (5) Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga, dan (6) Bagian Administrasi Bina PTAIS.

Bersamaan dengan hal itu, sesuai dengan status sebagai Keputusan Menteri Agama No. 487 tahun 2002, IAIN Sumatera Utara memiliki beberapa Unit Pelaksana Tekhnis, yaitu : (1) Pusat Penelitian, (2) Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, (3) Perpustakaan, (4) Pusat Komputer, (5) Pusat Pembinaan Bahasa, dan (6) Pusat Peminjaman Mutu Pendidikan.

Untuk mendukung dan mengembangkan misi IAIN Sumatera Utara, baik ke dalam maupun keluar, Pimpinan IAIN Sumatera Utara membentuk berbagai lembaga non-Struktural. Saat ini tidak kurang dari 10 Lembaga Non-Struktural yang atif melaksanakan tugas dan kegiatannya dalam mendukung pencapaian visi, misi dan tujuan IAIN Sumatera Utara. Lembaga-lembaga dimaksud ialah : (1) Pusat Studi Wanita, (2) Pusat Informasi dan Konseling HID/AIDS, (3) Badan Dakwah dan Pembinan Sumber Daya Manusia, (4) Pusat Layanan Bimbingan Konseling, (5) Pusat Informasi dan Usaha Mandiri, (6) Pusat Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup, (7) Forum Pengkajian Ekonomi dan Perbankan Islam, (8) IAIN Press, (9) Pusat Pelayanan Psikologi, dan (10) Pusat Koneling Keluarga Fakultas Dakwah.

Selain itu, sejumlah lembaga yang berperan dalam peningkatan kesejahteraan dan sosial yang ikut berkiprah dalam memajukan IAIN Sumatera Utara, antara lain, (1) Bank Pengkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) “Puduarta Insani”, (2) Ikatan Alumni IAIN Sumatera Utara, (3) Koperasi Pegawai Republik Indonesia, (4) Korpri, (5) Dharma Wanita Persatuan, (6) Badan Wakaf, (7) Simpan Pinjam Tarbiyah Madani, dan (8) Asipa Fakultass Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Sejak Oktober 2014, secara kelembagaan IAIN SU sudah resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU). Secara historis, proses dan prosedur formal konversi IAIN SU menjadi UIN SU tersebut telah dilakukan secara intensif sejak awal 2000an. Upaya tersebut mendapat dukungan positif dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Dirokrasi. Dukungan nyata untuk alih status menjadi UIN SU tersebut juga telah mendapat komitmen bantuan dana pembiayaan pembangunan/pengembangan kampus dari Islamic Development Bank (IsDB) dan Goverment of Indonesia (Gol).

Dalam konteks kelembagaan, UIN SU kini telah memiliki delapan Fakultas, yaitu :

1.    Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)

2.    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

3.    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)

4.    Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH)

5.    Fakultas Ushuluddin dan Study Islam (FUSI)

6.    Faklutas Sains dan Teknologi (F-Saintek)

7.    Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)

8.    Faklutas Ilmu Sosial (FIS)

Disamping delapan fakultas tersebut, UIN SU juga memiliki Program Pasca Sarjana yang memiliki enam Program Studi Starta Dua (S2) dan enam Program Studi Strata Tiga (S3)